PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI STUDI KASUS DI SMUN 18 BANDUNG
Diajukan untuk memenuhi
Disusun Oleh:
Wenny Widaningsih
060900
PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
ABSTRAK
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI STUDI KASUS DI SMUN 18 BANDUNG
Wenny Widaningsih
060900
Proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting bagi siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Terkadang siswa merasa jenuh dalam pembelajaran karena mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi merupakan mata pelajaran yang tergolong masih baru dan belum sepenuhnya diterima dan disukai oleh siswa. Oleh karena itu guru mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi harus mempunyai ide untuk mengelola kelas agar kelas dalam keadaan hidup dan menyenangkan serta membuat siswa lebih mudah mencerna materi pelajaran yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi dibandingkan dengan menggunaka model pembelajaran kovensional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dimana menggunakan 2 kelompok yang mana kelompok pertama merupakan kelompok eksperimen dan kelompok kedua merupakan kelompok control. Terdapat 2 variabel yaitu hasil belajar sebagai variabel terikat dan model pembelajaran kooperatif tipe tgt sebagai variabel terikat. Terdapat 2 hipotesis awal yaitu h0= tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe tgt dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional dan h1= terdapat perbedaan pada hasil belajar antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe tgt dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI STUDI KASUS DI SMUN 18 BANDUNG
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Terkadang orang yang pendidikannya rendah memiliki tingkat kehidupan yang rendah juga jika tidak didukung oleh keluarga yang baik dan sejahtera. Dalam dunia pendidikan peran seorang guru sangatlah penting karena menjadi pengajar sekaligus pendidik bagi muridnya. Mengajar merupakan hal yang sangat rumit yang harus dilakukan oleh seorang guru. Sebelum melakukan proses pembelajaran seorang guru harus terlebih dahulu merencanakan proses pembelajaran tersebut seperti pembuatan program tahunan, pemetaan, RPP, silabus, dan lain-lain. Hal yang paling berpengaruh bagi seorang guru tentu saja pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran dimana di dalamnya kita juga harus memperhitungkan model pembelajaran ketika kita akan melakukan proses pembelajaran.
Teknologi informasi dan komunikasi merupakan mata pelajaran yang masih terhitung ‘baru’ dibandingkan dengan mata pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan lain-lain. Berbeda dengan mata pelajaran lain diatas, mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi masih kurang diminati dan cenderung tidak wajib dikuasai oleh siswa sehingga guru mempunyai sedikit kesulitan ketika memberikan materi pelajaran kepada siswa karena siswa cenderung malas dan bosan ketika menerima pelajaran. Salah satu hal untuk mengatasi kejenuhan di kelas adalah dengan menggunakan sarana dan prasarana yang memang seharusnya ada untuk mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi ini yaitu komputer. Namun terdapat kembali masalah ketika tidak semua sekolah mempunyai dana yang cukup untuk menyediakan komputer bagi semua siswa. Siswa tidak bisa melakukan eksplorasi secara pribadi dengan komputer tersebut karena tentu saja siswa harus berbagi dengan temannya yang tidak mendapat jatah komputer.
Keterbatasan fasilitas dan kejenuhan siswa merupakan hal yang sangat penting karena hal tersebut tentu saja dapat berakibat buruk pada hasil belajar siswa. Siswa cenderung malas karena guru yang menerangkan secara asal-asalan sama sekali tidak menarik perhatian siswa untuk terfokus pada guru tersebut malah siswa menjadi mengantuk dan kabur dari mata pelajaran tersebut. Fasilitas terbataspun tentu saja menjadi kendala bagi guru dan siswa dan bisa menghambat proses pembelajaran.
Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang bisa membuat siswa fokus pada mata pelajaran dan membuat siswa merasa nyaman berada di dalam kelas. Salah satu model pembelajaran yang menarik dan akan diteliti oleh penulis model pembelajaran kooperatif tipe tgt atau teams games tournaments. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengelompokkan siswa ke dalam 5-6 orang dimana dalam kelompok tersebut siswa cenderung diajak untuk bekerja sama dan benar-benar berpartisispasi dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
I.2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini penulis terdapat beberapa rumusan masalah yaitu :
- apakah terdapat pengaruh dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe tgt (teams games tournaments) terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional
- bagaimanakah respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe tgt (teams games tournament) ini.
I.4. Tujuan Penelitian
Terdapat beberapa tujuan yang ingin diketahui dari penelitian ini, yaitu:
- Untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe tgt (teams games tournaments) terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional
- Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran tipe tgt (teams games tournaments).
I.5. Manfaat Penelitian
- Bagi Mahasiswa, untuk dijadikan bahan pembelajaran dan latihan praktek bagi mahasiswa untuk profesi pendidik.
- Bagi Guru
- Sebagai salah satu alternatif model pembelajaran
- Sebagai referensi bahan ajar untuk siswa
- Bagi Siswa
- Meningkatkan kemampuan siswa untuk bekerja sama
- Merangsang keaktifan siswa
- Meningkatkan kepemimpinan siswa
II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams games tournaments)
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams games tournaments) adalah salah satu tipe model pembelajara yang membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku yang berbeda. Berikut merupakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif tipe TGT :
1.Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2.Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3.Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4.Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5.Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
II.2. Pengertian Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22).
III. Metodologi Penelitian
- Populasi dan Sampel
Pengertian dari populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian, sedangkan sample adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti.
Populasi yang diambil adalah populasi siswa SMA Negeri 18 Bandung. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling, yaitu sampel yang terdiri dari kelompok anggota yang terhimpun pada gugus ( Cluster ) yang diambil secara acak dimana diambil sample secara acak dari kelas yang ada yaitu 2 kelas dengan tingkat yang sama dimana satu kelas dijadikan kelas control dan kelas eksperimen.
- Variabel Penelitian
Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian (Arikunto, 2002 : 104). Variabel- variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab (Arikunto, 2002 : 97). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe tgt (teams games tournament).
- Variabel terikat adalah variabel akibat atau variabel yang dipengaruhi (Arikunto, 2002 : 97). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Hasil belajar siswa.
- Analisis Instrumen
- Metode Pengumpulan Data
Menurut Arikunto (2002 : 207), metode pengumpulan data adalah mengamati variabel yang diteliti dengan menggunakan metode tertentu. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah :
- Tes
Metode tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto). Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar atau prestasi belajar siswa
- Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variable berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya (Arikunto). Dokumentasi yang digunakan adalah dokumentasi hasil belajar siswa sebelum diadakan penelitian ini agar diketahui keadaan awal siswa.
- Observasi
Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data peningkatan daya ingat siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
- Kuisioner
Kontak langsung dengan para subyek yang diperlukan dalam wawancara memakan banyak waktu serta mahal biayanya. Banayk informasi yang sama dapat dikumpulkan dengan perantaraan daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada para subyek. Dibandingkan dengan wawancara, daftar pertanyaan atau kuisioner tertulis ini lebih efisien dan praktis, serta memungkinkan digunakannya sampel yang lebih besar.
IV. Teknik Analisa Data
- a. Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah suatu proses untuk menentukan apakah dugaan tentang nilai parameter/karakteristik populasi didukung kuat oleh data sampel atau tidak.
H0 = tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe tgt dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional
H1 = terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe tgt dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional
- b. Validitas item
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu soal dikatakan valid jika soal tersebut mampu mengukur apa yang diinginkan. Validitas butir soal diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi point biseral sebagai berikut :
Keterangan :
rpbis : Koefisien korelasi point biseral
Mp : Rata- rata skor total yang menjawab benar pada butir soal
Mt : Rata- rata skor total
St : Standar deviasi skor total
p : Proporsi siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal
q : Proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal
- c. Uji Reabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik, reliabilitas dapat diperoleh dengan menggunakan rumus K-R 21 sebagai berikut :
Dengan :
Keterangan :
r11 : Reliabilitas Instrumen
k : Banyaknya butir soal
M : Rata- rata skor total
Vt : Varians total
Y : Skor total
n : Jumlah siswa
Kriteria :
Jika r11 > rtabel, maka instrumen tersebut dikatakan reliabel. (Arikunto, 2002 : 164).
- d. Tingkat Kesukaran
Ditinjau dari segi kesukaran, soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha penyelesaiannya. Soal yang terlalu sulit akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencobanya lagi karena di luar jangkauan kemampuannya (Arikunto, 2002 : 207). Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal disebut dengan indeks kesukaran yang diberi lambang IK. Harga indeks kesukaran dapat diperoleh dengan menggunakan rumus berikut :
Keterangan :
IK : Indeks/ tingkat kesukaran soal
JBA : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok atas.
JBB : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok bawah.
JSA : Banyaknya siswa pada kelompok atas
JSB : Banyaknya siswa pada kelompok bawah
Kriteria
IK = 0,00 Soal terlalu sukar
0,00 < IK ≤ 0,30 Soal sukar
0,30 < IK ≤ 0,70 Soal sedang
0,70 < IK <1,00 Soal mudah
IK = 1,00 Soal terlalu mudah
- e. Daya Pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkempuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut dengan indeks diskriminasi atau biasa disingkat dengan DP. Rumus untuk menentukan indeks pembeda adalah sebagai berikut :
DP : Daya Pembeda
JBA : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok atas
JBB : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok bawah
JSA : Banyaknya Siswa kelompok atas
Kriteria
DP ≤ 0,00 Sangat jelek
0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek
0,20 < DP ≤ 0,40 Cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 Baik
0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat baik
- f. dsfsd
VI. Daftar Pustaka
Purnamawati, Sri. 2009. Peningkatan Kualitan Pembelajaran Dengan Metode Teams Games Tournament (TGT) dan Media Komik Pada Siswa Kelas XI Teknik Mesin Otomotif I SMS Negeri Trucuk Tahun Ajaran 2008/2009
Wiratmoyo, Wahyu. 2005. Pengaruh Keaktifan Siswa Pada Metode Pembelajaran Kuantum Terhadap Prestasi Belajar Kimia Dasar I Kelas X Pokok Bahasan Kimia Koloid di SMK Kimia Industri Theresiana Semarang Tahun Ajaran 2004/2005,