Queer GirL











{18 September 2009}   14 Desember 2006

Hari itu, cuaca cerah. Langit tak mendung (sama aja kali!!). pagi-pagi mamaku bangun, aku bangun, babeh bangun, Mamen, Ichi, Welang juga bangun. Pagi-pagi aku disuruh cuci piring ‘setolombong’. Oh iya… hampir lupa men! Hari itu hari Kamis 14 Desember 2006. Hari itu ada jadwal kuliah praktek PTI. Pengumuman dulu, daku sekarang menduduki kelas diatas kelas IX SMA, sedang menjalani semester dua yang semoga lebih baik dari semester satu… amiin!!!

Lanjut!!

Sebenernya kronologis cerita dari cerita paling ga penting ke cerita ga penting, setengah penting, penting, sampai cerita klimaks yang merupakan inti tragedi 14 Desember yang takkan terlupakan dalam hidupku ini sedikit lupa-lupa inget. Tapi aku akan berusaha dengan segenap hati jiwa dan raga akan kukerahkan untuk mengadakan singkronisasi untuk melakukan reading harddisk dan memori otak untuk kembali ke masa lalu dan menceritakan semuanya pada para pembaca yang dengan tulus hati ataupun terpaksa membaca mahakarya diriku ini.

Perhatian!!!

Beberapa patah kata diatas tergolong kategori amat sangat tidak penting. Tapi bagi orang yang suka basa basi busa, mungkin yang seperti itu amat sangat penting sekali.

Jadi begini.

Mungkin ceritanya agak tidak puguh dan ambaracak. Terkesan tidak resmi karena menceritakan pengalaman pribadi yang bisa dianggap tidak penting bagi sebagian orang. Tapi…. mari kita hentikan semua omong kosong ini dan mulai pada cerita yang sebenarnya.

14 Desember 2006

Hari itu Acil (nama kakakku) dapat jatah kerja bagian shift siang dan pulang  biasanya jam malam-malam sekali (antara 10-11 malam). Sebelumnya, ini bukan cerita nightmare yang pernah ditayangkan di radio Ardan. Nah, karena Acil jadwal membanting tulangnya siang, maka aku sebagai adik terbaiknya, meminta dengan baik-baik tanpa paksaan dan rayuan agar Aci mengizinkanku ikut nebeng sampai ke UPI, JICA, FPMIPA, karena tempat kerjanya itu di restoran Cibiuk yang jalan Profesor Eyckman. Bukan promosi, hanya saja kalau ada yang punya uang lebih atau ingin meningkatkan kesejahteraan pegawai restoran disana terutama kakakku tersayang, mampirlah meskipun hanya mau mencicipi secuil sambel. Kembali ke jalan cerita, hari itu aku bangun pagi, solat, makan… apa nggak ya? Terus biasanya sebelum pergi kuliah sering ngobrak-ngabrik komputer di rumah terlebih dahulu. Sebelum pergi kuliah, tentu saja diriku menyempatkan diri untuk membersihkan diri di kamar mandi dan memakai seperangkat alat pembersih badan dan wajah serta kaki tangannya. Setelah itu aku pakai baju…. sepertinya warna pink… atau entah warna apalah… hanya saja ya…sudahlah lupakan.

Setelah berpakaian dan menjadi anak manis yang siap pergi sekolah (cuma sekolahnya nggak pake seragam), aku siap and ready to go to my campus. Nah… Acil yang iseng dan ga tau kenapa, memberiku kesempatan agar aku mengeluarkan motor… eitt, salah teman! Acillah justru yang mengeluarkan motor dari rumah ke luar rumah. Aku sih masih jadi penonton setia. Nah, baru setelah motor dipindahkan keluar rumah, beliau dengan entengnya bilang agar diriku yang kecil mungil ini untuk memindahkan motor sampai mencapai dekat pagar halaman rumah. Ya… karena cuma sampai pager doang sih aku oke-oke saja, tapi… tapinya belakangan. Aku yang biasa latihan naek motor di teras rumah (biasanya maju satu meter terus mundur satu meter terus maju, mundur, maju, mundur, maju lagi, mundur lagi, lalu nabrak tembok) berusaha mengerahkan seluruh energi dan tenagaku untuk memegang motor agar berada dalam keadaan seimbang tanpa oyag. Kemudian aku mencoba ngerem di tempat dan ngegas (tentunya tidak di tempat, karena kalo digas pasti maju! Masa lo ga tau???).

Senyumpun mengembang dari bibirku karena aku sudah bisa menjalankan motor sejauh setengah meter. Aku coba ngerem dan lancar. Aku coba ngegas, masih oke. Kakakku masih memegangi ujung motor dengan tangannya. Atraksiku saat itu sambil ditonton oleh para tetangga yang lagi nongkrong di teras rumahnya masing-masing. Ada Pak Edi dan Uwaku yang jadi saksi mata peristiwa 14 Desember itu. Aku sangat senang sekali saat itu, karena itu adalah pertama kalinya aku menjalankan motor lebih dari panjang tinggi badanku sendiri. Kakakku kemudian memberikan intruksi, “Soklah, sampe pager!”. Lalu akupun melakukan gas (maksudku ngegas) dan motor melaju cukup kencang, bagi ukurang pemula yang tak tau apa-apa sepertiku.

Tapi ditengah perjalanan jalan menuju pagar, aku hilang arah. Bukan tidak bisa membedakan arah kiri kanan utara selatan barat timur kulon kaler wetan kidul, tapi aku linglung. Mendadak melamun tak jelas melihat apa. Aku tidak mengalami kebutaan, tapi kelinglungan. Disaat mengalami gejolak memilih untuk jalan terus atau memutuskan untuk berhenti, aku malah jadi hilang ingatan, ngerem itu ke depan atau ke belakang? Maksudnya stangnya yang ada item-itemnya itu loh, yang suka ada karetnya, yang buat ngerem, taukan??

Ya udah, anggap aja tau. Yang ga tau bisa praktek setelah membaca cerita ini.

Nah, aku bingung saat itu. Kalo ke depan takut ngegas, ke belakang takut ngegas pula. Pakai rem yang kaki, takut malah jadi tak seimbang. Malahan aku belom pernah coba ngerem pakai yang rem kaki. So… diatas sebuah kebingungan, waktu untuk berpikir buat depan belakangpun menjadi semakin tipis. Pagar rumahku mendadak semakin mendekat dan mendekat… mendekat… mendekat… kearahku.  Kejadiannya berlalu begitu cepat, secepat kilat yang menyambar. Aku yang tak punya pilihan lain selain  a b c d e saat itu, tak sempat meloncat dari motor ataupun melakukan salto agar bisa  berguling di tanah untuk menyelamatkan diri saat itu. Akhirnya…

“Braak!!!”.

Innalillahi wainnailaihi rojiun…

Kamis, 14 Desember 2006 pukul 12.30, telah terjadi kecelakaan yang melibatkan seorang gadis, seperangkat pager dan menjatuhkan korban besi yang jadi leklok karena potong ditabrak stang motor, dan tiga buah jari yang manis, kecil dan mungil milik seorang gadis yang bernama Wenny Widaningsih, 060900, Universitas Pendidikan Indonesia, Pendidikan Ilmu Komputer. Kerusakan terparah terjadi pada bagian jempol sang gadis, karena terjadi perekrutan kuku baru yang disebabkan kuku lamanya mengalami pendarahan di bawah kuku sehingga kuku lama harus lepas dan sampai sekarang bagian bagian jempol ini masih mengalami pertumbuhan kuku baru. Dimohon doanya agar diberi kelancaran dalam pertumbuhan kuku yang baru dan kemudahan dalam proses rekonstruksi kuku ini.

Sekian dan terima kasih.



Lilis Nurhayati says:

STP psn neng..haha,,,
makannya jagn bnyak mikir jd linglung,,pk rem motor tuh jgn rem tangan ja claka baru nyaho….
Sok lah keluarkan cerita2 STP mu itu..huhu



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: